Aspek pengembangan diri dalam keluarga terutama bagi anak perempuan sangat perlu untuk didukung. Terlebih banyak pandangan orangtua yang berpikir bahwa seorang perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi karena nanti ujung-ujungnya juga mengurus dapur, sumur dan kasur.

Aspek pengembangan diri dalam keluarga

  • Aspek pengembangan diri dalam keluarga yang pertama yaitu orangtua selayaknya memberikan kesempatan yang sama kepada anak perempuan dan anak laki laki untuk mengembangkan potensi kemampuannya seoptimal mungkin dengan dukungan moral dan material yang tidak dibedakan.
  • Orangtua tidak menentukan secara sepihak harapan dan peran untuk anak perempuan dan laki laki, kecuali memberi masukan yang fair, menjadi teman bertukar pikiran, memfasilitasi anak kepada ahli yang kompeten dalam rangka mengembangkan potensinya.
  • Menolong anak supaya mempunyai perilaku asertif, sehingga mereka berani mengemukakan keinginan, inspirasi serta alasan alasan yang masuk akal serta realistis tanpa dihantui perilaku ketakutan, kegelisahan, kebingungan, keputus asaan, ketidakpuasan, dendam, iri, cemburu, apatis, pasif, tidak percaya diri, malu, mengisolir diri, apalagi kasar.
  • Orangtua mengajak bertukar pikiran dengan anak terkaitt masa depannya, paling utama bila terindikasi bisa menimbulkan perbedaan harapan, tujuan serta kemauan antara anak dengan orangtua.
  • Bila orangtua mempunyai harapan yang diyakini pantas serta diprediksikan sanggup dicapai oleh anaknya, perlu menciptakan area yang kondusif supaya anak memahami harapan tersebut serta suka cita menerimanya, tanpa merasa tidak berdaya yang hendak kurangi rasa ketidakpercayaan atas keahlian dirinya.
  • Orangtua menghindari untuk menyamakan kemampuan antara anak satu dengan yang lain, paling utama anak wanita dengan laki laki, sebab tiap orang mempunyai kelebihan serta kekurangan pada aspek tertentu.
  • Orangtua selayaknya menolong anak untuk memahami kelebihan serta kekurangan yang ada pada anak, serta bersumber pada kelebihan serta kekurangan yang ditemui ini, anak dibantu merumuskan rencana masa depannya.
  • Orangtua menghindari untuk menyalahkan anak pada saat mereka menghadapi kegagalan.
  • Orangtua menghindari untuk mengatakan“ tidak” ataupun“ jangan” untuk suatu hal yang tidak disetujuinya, ataupun pula mengatakan“ wajib” buat perihal yang dikehendakinya.
  • Orangtua layak memberi penghargaan serta pujian pada saat anak menemukan prestasi.
  • Orangtua menunjukkan respek terhadap masukan serta usul anak, serta mendiskusikannya.
  • Orangtua perlu menahan diri, tidak memotong pada saat anak menyatakan gagasan, serta tidak lekas memvonis serta bereaksi negatif.
  • Orangtua bisa menegur ataupun memberi nasehat dengan bahasa yang sesuai umurnya pada waktu yang pas serta tidak terus menerus mengomel setiap saat.
  • Orangtua bisa meminta maaf secara jika keliru kepada anak.
  • Suami, isteri, serta anak anak wajib bahu membahu melaksanakan hak serta kewajiban masing masing, sehingga tidak memunculkan dilematis serta konflik pada isteri ataupun ibu mereka pada saat ingin berkiprah di masyarakat.
  • Seluruh anggota keluarga wajib ikut bangga atas keberhasilan istri, bunda, adik, ataupun kakak mereka yang wanita dalam prestasi tertentu di sekolah ataupun masyarakat.
  • Aspek pengembangan diri dalam keluarga yang terakhir yaitu suami menghindari untuk membebankan peran ganda kepada istri, tetapi hendaknya menjadi shared parenting bersama dalam rumah tangganya untuk mencapai kebahagiaan bersama.


Demikianlah informasi mengenai aspek pengembangan diri dalam keluarga.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *