Mungkin Anda pernah mengalami kejadian di mana saat Anda sekeluarga pergi mengunjungi mall di kota Anda, anak Anda meminta dibelikan sesuatu? Saat Anda tidak mengabulkan permintaannya, tidak Anda duga sebelumnya, anak Anda tiba-tiba menangis sekencang-kencangnya, hingga berguling-guling di lantai mall. Hingga semua perhatian pengunjung yang lain tertuju kepada Anda semua, dan itu membuat Anda kehilangan muka. Tentunya Anda merasa sangat jengkel, namun justru tangis si anak semakin menjadi-jadi.

Ya, Anda sedang menghadapi Temper Tantrum. Temper Tantrum merupakan kondisi di mana amarah anak meletup yang kadang disertai dengan tingkah yang akan membuat Anda semakin jengkel, seperti menangis dengan keras, berguling-guling di lantai, menjerit, melempar barang, memukul-mukul, menyepak-nyepak, dan sebagainya. Pada anak yang lebih kecil, terkadang diiringi pula dengan muntah atau kencing di celana.

Temper Tantrum umumnya terjadi pada anak usia 2 sampai 4 tahun pada saat anak menunjukkan kemandirian dan sikap negativistiknya.

Temper Tantrum umumnya terjadi karena ketidak mampuan anak dalam mengontrol emosi dan mengungkapkan amarahnya secara tepat. Temper tantrum menjadi semakin prah ketika orang tua tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada anaknya, dan tidak bisa mengendalikan emosinya karena malu, jengkel, dan sebagainya.

Penyebab Temper Tantrum

Ada beberapa penyebab konkrit yang membuat anak mengalami Temper Tantrum, antara lain sebagai berikut :

  • Anak dalam kondisi terlalu lelah, sehingga mudah kesal dan tidak mempu mengendalikan emosinya.
  • Ketika anak gagal pada saat melakukan sesuatu, akibatnya anak menjadi emosi dan tidak mampu mengendalikan emosinya. Kondisi yang demikian ini menjadi semakin parah, ketika anak merasakan bahwa orang tuanya selalu membandingkan dengan orang lain, atau orang tua memiliki tuntutan yang tinggi pada anaknya.
  • Ketika orang tua selalu menolak atau bahkan memarahi anak ketika menginginkan sesuatu. Sementara, di satu sisi, orang tua selalu memaksa anak untuk melakukan sesuatu di saat dia sedang asyik bermain, misalnya untuk makan.

    Mungkin tidak pernah terpikir di benak orang tua bahwa hal ini akan menjadi persoalan di kemudian hari bagi si anak. Si anak akan merasa bahwa ia tidak akan mampu dan tidak berani menentang kemauan orang tuanya, sementara si anak harus selalu menuruti perintah orang tuanya. Timbul konflik yang akan merusak emosi si anak, sehingga emosi anak menjadi meledak-ledak.

  • Pada anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan mentalnya, sering terjadi Temper Tantrum, di mana dia putus asa untuk mengungkapkan maksudnya pada sekitarnya.
  • Tidak ada buah jatuh jauh dari pohonnya. Orang tua merupakan cerminan dari anak-anaknya. Anak seringkali mencontoh tindakan penyaluran amarah yang salah pada ayah atau ibunya. Jika Anda peduli dengan perkembangan anak Anda, sebaiknya Anda melakukan introspeksi dan memperbaiki sikap dan sifat-sifat Anda yang tidak sesuai.

Cara Mengatasi Temper Tantrum

Hal-hal yang bisa Anda lakukan untuk mengatasinya :

  • Jadilah contoh yang baik bagi anak. Ketika Anda marah, Anda harus dapat menyalurkan emosi Anda secara tepat. Yang harus Anda ingat, anak adalah kertas putih yang siap merekam setiap kejadian yang positif maupun negatif yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

    Anak Anda akan selalu merekam sifat-sifat Anda yang buruk, atau dia pernah melihat si Ayah menampar Ibunya, maka dapat dipastikan peristiwa itu akan membawa pengaruh buruk dalam kehidupannya kelak.

  • Berikan kesempatan secara bijaksana kepada anak ketika anak ingin bermain dan tidak ingin diganggu. Jangan terlalu mengekang anak Anda, dan berikanlah kepercayaan bahwa anak Anda dapat bermain dan bergaul dengan baik.
  • Berseberangan pendapat adalah hal yang wajar, sampaikanlah pendapat Anda secara tegas, namun tetap dengan kelembutan. Jangan membentak anak, apalagi mengata-katai anak dengan ucapan-ucapan yang tidak pantas.

    Anda tidak sedang bermusuhan dengan anak Anda, dan dia bukan musuh Anda, jadi atur emosi Anda. Abaikan tangisnya dan ajaklah dia berbicara dengan lembut. Jelaskan kepada anak Anda mengapa Anda tidak memberinya mainan yang dia ingini dengan alasan yang jujur dan tidak dibuat-buat.

    Berikan penjelasan dengan sabar sampai dia mengerti maksud Anda yang sebenarnya, karena saat itu adalah konflik yang sedang dialami oleh si anak.

    Anda harus dapat memastikan bahwa ia bisa mengerti dengan baik maksud Anda, karena konflik yang berakhir menggantung, akan muncul di kemudian hari dengan bentuk yang tidak pernah Anda duga sebelumnya.

    Sekali lagi, atur emosi Anda. Mungkin Anda malu dilihat banyak orang di Mall. Tapi ingatlah akan perkembangan emosi anak Anda. Bisa Anda bayangkan apa yang terjadi jika Anda terbawa emosi dan rasa malu, dan Anda bersikap keras kepada anak Anda.

  • Ajari anak Anda untuk berlatih menguasai dan mengendalikan emosinya dengan mengajaknya bermain musik, melukis, bermain bola, atau permainan lainnya. Melalui permainan-permainan tersebut, anak belajar untuk menerima kekalahan, belajar untuk tidak sombong jika menang, bersikap sportif, dan belajar bersaing secara sehat.

    Tapi ingat, jangan sekali-kali Anda melakukan kecurangan. Anda mungkin berpikir ini hanya sekedar permainan. Tapi dalam pikiran anak akan tumbuh keyakinan bahwa berlaku curang itu sah-sah saja dan bukan merupakan persoalan berarti. Jika demikian adanya, maka sesungguhnya Anda sedang menyiapkan seorang koruptor baru di negeri ini.

Image: https://www.completechildrenshealth.com.au/


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *