Kesadaran emosi merupakan suatu kemampuan untuk mengenali dan memahami perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Mengenali emosi diri merupakan inti dan dasar dari kecerdasan emosional, yaitu kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu bagi pemahaman diri dan kemampuan mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi (Salavey & Mayer dalam Goleman, 2000).

Di samping itu mengenali emosi diri yaitu kemampuan untuk menguasai perasaannya sendiri agar perasaan tersebut dapat diungkap dengan tepat. Orang tidak mampu mengelola emosinya akan terus menyesali kegagalannya. Sedangkan orang yang mampu mengelola emosinya akan segera bangkit dari kegagalannya.

Sedangkan memahami emosi menurut Solovey dan Mayer (dalam Snyder & Lopez, 2002b)  yaitu kemampuan untuk memahami hubungan antara berbagai emosi, memahami penyebab dan konsekuensi dari emosi, memahami perasaan secara kompleks, memadukan emosional, serta kemampuan untuk memahami transisi antara emosi.

Memahami emosi juga berarti mengetahui dengan seksama penyebab, akibat serta cara berkembang dan berubahnya emosi setiap saat sangat penting sementara individu berusaha menggunakan emosi agar berfungsi dengan efektif.

Mersino (2007) menyebutkan kesadaran emosi adalah kemampuan untuk mengenali emosi-emosi diri sendiri. Kesadaran emosi adalah kesadaran atau tahu akan kondisi emosional diri sendiri. Kesadaran emosi sebagai suatu perhatian terus menerus terhadap keadaan bathin, dimana pikiran mengamati dan menggali pengalaman emosi. Para ahli psikologi lain mengistilahkan kesadaran diri dengan metakognisi dan metamood.

Metakognisi merujuk pada kesadaran tentang proses berfikir, dan metamood merupakan kesadaran seseorang akan emosinya (Goleman, 1988). Patton (1997) mengartikan kesadaran emosi sebagai kemampuan mengetahui diri sendiri serta menyadari emosi-emosi dan pikiran.

Emosi merupakan keadaan yang ditimbulkan oleh situasi tertentu. Emosi dapat terjadi dalam kaitannya dengan perilaku yang mengarah atau menyingkir terhadap sesuatu. Perilaku tersebut pada umumnya disertai adanya ekspresi kejasmanian sehingga orang lain dapat mengetahui bahwa seseorang sedang mengalami emosi.

Sebagai ekspresi dari kejasmanian bahwa seseorang sedang mengalami emosi dapat dicontohkan dalam kehidupan seseorang yang dapat memecahkan masalah dan membuat ia merasa senang dan bahagia, tetapi terkadang seseorang tidak dapat memecahkan masalahnya, sehingga membuat ia kecewa, marah, cemas, sedih atau takut.

Glanz dan Goleman (1999) menjelaskan bahwa emosi adalah perasaan psikologi, kesadaran individu yang biasanya terjadi sebelum, bersamaan atau setelah sebuah pengalaman. Rogers & Dorothy (1999) mengemukakan emosi sebagai respons terhadap stimuli mempunyai tiga aspek yaitu mental, fisik dan motif.

  • Aspek mental dalam emosi adalah pengalaman-pengalaman kesadaran yang meliputi perasaan-perasaan seperti bahagia, marah, gembira, sedih, cemas atau takut.
  • Aspek fisik terlihat pada perubahan yang sangat kompleks seperti perubahan otot-otot, kelenjar dan aktivitas saraf.
  • Aspek motif adalah ketika emosi mendorong melakukan penyesuaian terhadap problem-problem yang dihadapi.

Walaupun terdapat berbagai pendapat tentang emosi yang diberikan oleh para ahli, namun menurut Feldman (2003) mengemukakan emosi adalah perasaan-perasaan yang mempunyai elemen-elemen kognisi dan fisiologis yang kedua elemen tersebut akan mempengaruhi tingkahlaku seseorang. Ellis (1999) menyebutkan bahwa emosi adalah produk pemikiran manusia artinya jika seseorang berfikir buruk tentang sesuatu maka ia akan merasakan sesuatu itu sebagai hal yang buruk.

Dari beberapa pendapat tentang definisi emosi di atas, disimpulkan bahwa emosi adalah suatu perasaan-perasaan sebagai respon terhadap rangsangan-rangsangan dari luar, yang mengandung komponen sebagai berikut :

  1. Kognisi, bahwa sifat dan intensitas emosi yang dialami seseorang berhubungan erat dengan aktivitas kognisi (berfikir) yang merupakan hasil dari persepsi terhadap suatu peristiwa atau suatu situasi tertentu.
  2. Fisiologi, bahwa emosi berhubungan dengan perubahan fisik pada seseorang. Misalnya kalau kita berada dalam keaadaan berbahaya; jantung kita berdebar-debar, nafas kita pendek, dan sikap kita penuh energi. Reaksi ini tentunya mungkin kita merasa ada suatu ancaman dari luar diri kita seperti ular atau penjahat, atau dari dalam diri kita seperti rasa marah yang mungkin tidak kita kuasai.
  3. Perilaku, bahwa orang yang sedang mengalami emosi tertentu cendrung melakukan tindakan tertentu pula. Sebagai contoh ketika seseorang sedang gembira akan menunjukkan perilaku tersenyum, bersiul, melompoat kegirangan, bernyanyi, dan bagi orang yang bersedih ia akan melamun atau berdiam diri dan menangis. Sebaliknya jika orang sedang marah, ia akan mengomel atau berteriak-teriak, memukul sesuai, wajahnya merah padam dan merengut.

Dengan adanya emosi, seseorang dapat melakukan interaksi dengan orang lain yang ada disekitarnya. Namun demikian ada saat-saat tertentu emosi itu menjadi masalah karena disebabkan kurangya seseorang berkesadaran emosi (emotional awareness), sehingga dapat mengakibatkan atau mengganggu seseorang yang merugikan dirinya dan orang lain.

Karena kesadaran emosi itu tidak dapat dipisahkan dengan emosi seseorang, maka Mayer & Salovey (2000) dan Goleman (2005) mengemukakan bahwa lebih cepat mengidenfikasi emosi maka akan lebih cepat seseorang sadar emosi. Mengidentifikasi emosi berarti seseorang perlu mengenal emosi apa yang sedang bergejolak pada dirinya.

Lebih lanjut Mayer & Salovey (2000) dan Goleman (2005) mengemukakan emosi dapat dikelompokkan sebagai berikut :

  1. Cinta, meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan, pertalian, kesetiaan, pemujaan/cinta sejati, termangu, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran.
  2. Senang, meliputi kebahagiaan, kegembiraan, kelegaan, kesuksesan, kegirangan, kebanggaan, kesenangan hawa nafsu.
  3. Terkejut, meliputi shok, keheranan, kekaguman, terpana.
  4. Jengkel, meliputi jijik, penghinaan, cemoohan, kebencian, keengganan, reaksi mendadak, muak, mual, tidak suka.
  5. Malu, meliputi rasa bersalah, menyesal, malu hati, kesal hati, hina, aib, hati hancur lebur.
  6. Takut, meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, waspada, tidak tenang, ngeri, kecut, panik, phobia.
  7. Marah, meliputi beringas, kegeraman, mengamuk, kekejaman, kebencian, kedongkolan, tersinggung, bermusuhan, tindak kekerasan dan dendam.
  8. Sedih, meliputi kegagalan, duka cita, kemurungan, sayu, pedih, kasihan pada diri sendiri, kesepian, kekesalan (Mayer & Salovey, 2000 dan Goleman, 2005).

Lebih lanjut Feldman (2000) menyebutkan bahwa emosi-emosi dasar pada seseorang terdiri dari marah, takut, sedih dan malu. Sedangkan Ekman (2003) menyebutkan jenis-jenis emosi terdiri dari: takut, marah, sedih, terkejut, jijik, cemburu, muak dan emosi-emosi yang menyenangkan.

Namun demikian Ekman (2003) menyatakan bahwa dari berbagai jenis emosi tersebut ada empat emosi inti pada individu yaitu takut, marah, sedih dan senang. Keempat jenis emosi inti ini telah dianggap universal karena talah dilakukan penelitian pada bangsa-bangsa di seluruh dunia dengan budaya yang berbeda-beda, mereka mengali keempat jenis emosi inti ini dengan tepat.

Dari penjelasan di atas, disimpulkan bahwa kesadaran emosi merupakan kemampuan seseorang dalam mengenal dan memahami emosi sendiri secara positif, sehingga dapat mengelola emosi secara tepat dan dapat membina hubungan baik dengan orang lain. Sebaliknya seseorang yang kurang memiliki kesadaran diri terhadap emosinya akan berakibat sulit menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri maupun orang lain.

Sumber: konselingkita.com


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *