Dalam menjalani rutinitas sehari-hari terkadang tiba-tiba Anda merasa bersedih, merasa sendiri, dan tidak ingin melakukan apa-apa. Hati-hati, bisa jadi ini pertanda depresi.

Pengertian Depresi

Dari yang Anda alami di atas, termasuk gejala depresi. Apa yang dimaksud dengan depresi? Depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai proses berpikir, berperasaan dan berperilaku seseorang dalam kehidupannya. Depresi ditandai dengan perasaan sedih berkepanjangan dan kehilangan minat terhadap kegiatan-kegiatan yang biasanya kita lakukan dengan senang hati.

Seseorang yang depresi memperlihatkan perasaan tidak berdaya, putus asa dan kehilangan harapan, disertai dengan perasaan sedih, kehilangan minat dan kegembiraan. Selain itu yang bersangkutan juga kehilangan energi, sehingga kelihatan mudah lelah dan malas beraktivitas.

Penyebab Depresi

Depresi umumnya dialami oleh orang dewasa. Dugaan penyebab depresi berhubungan dengan faktor genetik, hormon, dan zat kimia di otak. Berikut ini merupakan faktor pemicu terjadinya depresi, di antaranya:

  • Mengalami peristiwa traumatis
  • Memiliki penyakit kronis atau serius
  • Mengonsumsi jenis obat tertentu
  • Memiliki riwayat gangguan mental lainnya
  • Memiliki tekanan batin, misalnya karena masalah keuangan atau masalah rumah tangga
  • Memiliki pola pikir yang salah, misalnya toxic positivity

Depresi tidak diakibatkan oleh penyebab utama tunggal. Setiap orang dapat mengalami depresi karena berbagai penyebab dan karena berbagai pencetus yang berbeda. Setidaknya ada 3 model penjelasan etiologi depresi, yaitu: model biopsikososial, teori dari sistem dan model diatesis-stres.

Model biopsikososial

Model ini menjelaskan bahwa penyebab depresi terjadi interkoneksi dan interdependen dari faktor biologis, psikologis dan sosial. Model biopsikososial dapat efektif memprediksi terjadinya keparahan dan kronisitas dari depresi dan memberi informasi subtipe berdasar biopsikososial.

Model diatesis-stres

Mode ini menjelaskan hubungan antara penyebab potensial depresi dan derajat kerentanan individu untuk bereaksi terhadap penyebab tersebut. Model diatesis-stres menjelaskan bahwa individu mempunyai kerentanan atau predisposisi untuk mengalami depresi pada berbagai derajat. Model diatesis-stres mendukung bahwa mempunyai kecenderungan bawaan untuk menjadi depresi saja tidak cukup untuk mencetus terjadinya penyakit, namun harus berinteraksi dengan kejadian kehidupan yang stres (stressful life events) baik yang bersifat sosial, psikologis atau biologis untuk terjadi onset gangguan depresi.

Makin besar kerentanan bawaan pada seseorang, makin sedikit stresor lingkungan yang diperlukan untuk menjadi depresi dan sebaliknya. Sebelum dicapai sejumlah stresor yang melampaui batas kritis, maka individu secara umum dapat berfungsi normal dan kerentanannya dikatakan latent atau tersembunyi.

Dampak dari stresor berbeda pada orang yang berbeda. Setiap stresor mempunyai dampak pada individu dalam dinamika yang unik. Sehingga menurut hipotesis diatesis-stres, maka faktor biologi secara khas berfungsi sebagai diatesis, faktor psikologis sebagai diatesis atau stresor dan faktor sosial berfungsi sebagai stresor atau pencetus.

Teori biologi dari depresi sering untuk mudahnya dikatakan sebagai ketidakseimbangan neurokimiawi atau neurotransmitters serotonin, norepinephrin dan dopamin serta yang akhir-akhir ini diduga juga terlibat pada depresi adalah glutamat dan amino butyric acid (GABA). Walaupun biokimiawi otak terlibat, namun penjelasan ini terlalu sederhana. Bahkan bila hanya melihat dimensi biologis dari depresi, otak mempunyai banyak lapisan dari kekompleksan.

Penurunan produksi serotonin dapat menyebabkan depresi pada sebagian orang dan menyebabkan suasana perasaan murung, putus asa, hingga muncul pikiran untuk bunuh diri. Individu yang mengalami perasaan depresi, mengalami penurunan kadar norepinefrin.

Demikian juga keadaan serotonin yang rendah dapat mencetuskan penurunan kadar norepinefrin yang pada akhirnya menjadi depresi. Individu yang mengalami episode depresi yang multiple mempunyai saraf norepinefrin yang lebih sedikit daripada yang tidak pernah mengalami depresi.

Norepinefrin membantu mengenal dan merespon keadaan stress, sehingga diduga bahwa kerentanan terhadap depresi disebabkan karena system norepinefrin yang tidak mampu mengatasi stres dengan efisien. Kadar dopamin yang rendah menyebabkan individu tidak mempunyai gairah dan rasa senang terhadap aktivitas yang biasanya dilakukannya.

Genetik. Kembar identik berisiko 76% untuk menjadi depresi, sedangkan saudara tidak kembar hanya memiliki resiko sebesar 50% untuk menjadi depresi bila ada salah satu saudaranya depresi. Penelitian pada kembar identik yang dipisahkan dan salah satunya dibesarkan oleh keluarga lain, maka bila salah satu kembar mengalami depresi, maka kembar lainnya juga berisiko menderita depresi sebesar 67%.

Risiko mengalami depresi mayor adalah 1,5-3 kali lebih tinggi di antara keluarga tingkat pertama dari pasien dibandingkan dengan keluarga tingkat pertama dari yang tidak depresi. Dengan kata lain orang yang mempunyai saudara atau orangtua depresi berisiko 3 kali untuk menjadi depresi dibandingkan dengan orang yang tidak mempunyai riwayat depresi pada orangtua atau saudara. Pada keluarga yang peminum alkohol juga berisiko lebih tinggi untuk menjadi depresi dibandingkan populasi normal.

Teori kognitif mengatakan bahwa orang orang yang mengalami depresi cenderung mencerna persoalan hidup dari sisi gelapnya, memandang pesimis terhadap masa depan, berpikir negatif tentang diri sendiri dan orang lain. Orang dengan depresi kurang dapat berpikir objektif dan rasional, pikiran otomatisnya didominasi oleh tema tema ketidakberdayaan.

Tanda-Tanda Depresi

Depresi merupakan respons mental seseorang dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Depresi muncul disaat semua masalah menumpuk di otak dan seseorang tak tahu bagaimana cara mengatasinya. Sebagian besar orang tak merasakan gejala depresi, namun bila memuncak akan timbul perasaan yang tak bisa dihindari.

Gejala depresi

  • Merasa sedih, murung, suasana hati kosong
  • Kehilangan energi, perasaan letih, lemah,lesu
  • Kehilangan minat dan kegairahan terhadap berbagai aktifitas yang sebelumnya disukai
  • Merasa bersalah dan tidak berguna
  • Gelisah, insomnia, atau sebaliknya tidur berlebihan
  • Rasa pesimis, putus asa, hingga Ingin bunuh diri
  • Perubahan pola tidur
  • Masalah pada perubahan berat badan, bisa turun atau naik
  • Tidak mampu berkonsentrasi
  • Sering lelah, tidak berenergi
  • Mudah sakit kepala dan mengalami ganggian pencernaan, namun tidak respon terhadap pengobatan.

Depresi Versus Kesehatan Fisik

Depresi dapat memengaruhi kesehatan fisik kita. Tidak percaya? Kecemasan yang berlebihan akan memacu hormon tertentu dalam tubuh, menyebabkan denyut jantung meningkat dan tekanan darah berlebihan. Depresi juga dapat menurunkan daya tahan tubuh, akibatnya tubuh gampang terkena penyakit. Selain itu, depresi memengaruhi metabolism gula darah di dalam tubuh, depresi juga menurunkan gairah seksual.

Bagaimana menghadapi depresi?

Penderita depresi membutuhkan dukungan dari lingkungan terdekat dan masyarakat terkecil di lingkungan kita tinggal adalah keluarga. Keluarga merupakan obat yang paling tepat dalam masalah gangguan jiwa seperti depresi.

Anak-anak pun tak luput dari gangguan kejiwaan, karena ketidakmampuan mereka untuk menangani masalah yang dihadapi. Seorang anak masih sangat terbatas dalam memahami masalah dan menyelesaikan masalahnya. Kalau perempuan lebih banyak mengalami depresi, karena justru merekalah yang seringkali menjadi beban tumpuan dari penyelesaian masalah. Sementara jalur mereka untuk melepaskan beban jauh lebih sedikit dan terbatas dibandingkan kaum laki-laki, bahkan perempuan seringkali dituntut mampu menjadi problem solver dari semua masalah.

Bagaimana mencegah depresi?

Untuk mencegah depresi ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan, yaitu:

  • Menerapkan pola hidup teratur: istirahat yang cukup cukup (6-8 jam sehari) dapat menurunkan tingkat depresi.
  • Menerapkan Pola makan seimbang agar stamina tubuh terjaga.
  • Rutin Olahraga dan rekreasi adalah salah satu cara untuk mencegah terjadinya depresi.
  • Sikap hidup yang positif, dengan berpikir rasional dan obyektif akan mencegah gejala depresi.
  • Memiliki planning yang rasional dalam hidup, dan dapat menerima kondisi yang tak mungkin dapat diubah.
  • Memiliki kerabat atau sahabat yang dapat sewaktu waktu saling berbagi dan saling membantu.
  • Memiliki me time alias waktu untuk diri sendiri, di antara kesibukan yang padat.
  • Lakukan kegiatan seperti spa, meditasi, yoga, dan relaksasi.

Mengembangkan kehidupan spiritual seperti; belajar lebih memahami diri sendiri, belajar mengerti orang lain, dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Bila gangguan depresi tak juga membaik, konsultasikan dengan psikiater, agar dapat segera diberikan pertolongan.

Sumber artikel:
RS. Mitra Keluarga


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *